Home / culture / Wow, Tradisi Seks Di Bawah Umur Ala Suku Trobrianders

Wow, Tradisi Seks Di Bawah Umur Ala Suku Trobrianders

Beragam suku ada di Indonesia dan memiliki tradisi masing-masing. Tradisi memang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat, mulai dari bahasa, cara makan, berpakaian, pernikahan hingga berhubungan seksual. Setiap tradisi yang lahir dan dilakukan ditiap-tiap daerah merupakan bagian dari kepercayaan turun temurun dari nenek moyang dan leluhur yang diwariskan kepada generasi selanjutnya. Salah satunya suku Trobrianders di pedalaman Papua Nugini yang menjalani tradisi seks sedari kecil. Bagaimana kisahnya? Yuk kita simak.

Tradisi Seks Ala Suku Trobrianders

Berbagai tradisi yang mungkin dianggap aneh atau tidak lazim oleh masyarakat modern, tetap saja dilakukan dan diyakini oleh tiap-tiap suku dengan cara dan kepercayaan yang berbeda-beda. Bagi sebagian masyarakat, tradisi hanya dianggap sebagai segala hal yang menjadi warisan budaya dari nenek moyang, namun ada juga sebagian masyarakat di beberapa daerah tertentu, khususnya di daerah-daerah pedalaman yang masih menganggap dan meyakini bahwa setiap tradisi harus dilakukan sebagai salah satu sarana kehidupan yang harus dilakukan.

Termasuk tradisi seks yang tak lazim namun tetap dilakukan di pedalaman Papua Nugini. Salah satu suku yang terkenal dengan tradisi ritual seks terunik yaitu di suku Trobrianders,

Papua Nugini. Lagi-lagi suku di Papua Nugini ini memiliki kebiasaan seksual yang di luar mainstream. Kalau rata-rata orang normal mulai melakukan hubungan seksual di usia belasan tahun maka anak-anak suku pedalaman ini sudah melakukan hubungan seksual sejak usianya 6-8 tahun untuk prianya dan usia 10-12 tahun untuk kalangan wanitanya. Usia anak-anak yang seharusnya dihabiskan untuk sekolah dan bermain layaknya anak-anak pada umumnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Papua Nugini, terbagi ke dalam beberapa suku yang masih menjunjung tinggi tradisi dan kebudayaannya yang masih kental. Seperti sebut saja tradisi meminum air mani di suku Sambians. Anak laki-laki diharuskan meminum air mani atau sperma dari laki-laki lain sebagai salah satu bentuk ritual menuju kedewasaan. Kebiasaan yang sudah terjadi secara turun-temurun ini tak ayal menjadi pemicu utama tersebarnya penyakit HIV/AIDS di pedalaman Papua. Suku primitif di pedalaman Papua Nugini ini tampaknya bisa menjadi studi kasus dalam konseksuensi revolusi seksual.

Suku Trobrianders juga menyimpan dan mengisahkan tentang tradisi berhubungan seks sejak kecil. Terdengar tak lazim jika melakukan hubungan seks sejak kecil. Namun, tradisi itulah yang masih dilakukan di suku Trobrianders. Pasalnya, di suku Trobrianders menerapkan konsep tentang seks yang tidak biasa dilakukan secara umum. Hal ini dikarenakan orang suku ini meyakini jika dengan begini mereka tidak akan mengalami permasalahan saat berhubungan seks saat usia dewasa.

Berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual sejak dini dan mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak terjerumus ke dalam seks bebas. Namun, berbeda dengan tradisi yang terjadi di suku Trobrianders, tradisi berhubungan seks sejak kecil menjadi hal yang wajar dan harus dilakukan oleh anak-anak.

Meskipun demikian, suku ini tetap memiliki aturan wajib yang harus dipatuhi dalam urusan berkencan, yaitu sebelum mereka menikah, wanita dan pria yang telah melakukan hubungan seksual sejak kecil ini tidak diperbolehkan untuk pergi makan berdua.

Tradisi Ini Memicu Kontroversi

Walaupun tradisi ritual seks terunik tidak memicu kontroversi masyarakat Papua Nugini, namun ternyata tradisi berhubungan seks sejak kecil yang terjadi di suku Trobrianders ini menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat, yang menganggap bahwa tradisi sangat merugikan masa depan anak-anak.

Selain itu, secara kesehatan melakukan hubungan seks sejak dini berbahaya bagi tubuh salah satunya yaitu kanker serviks. Penyakit ini mengancam para wanita yang sering melakukan hubungan seksual di bawah umur. Adanya benda asing yang masuk ke dalam rahim akan mengakibatkan terjadinya luka dan infeksi rahim. Lazimnya, melakukan hubungan seksual ketika berusia 17 tahun ke atas.

Tidak hanya di Papua Nugini yang memiliki tradisi seks yang cukup aneh, namun di Nepal juga ada tradisi seks yang aneh oleh suku Himalaya yaitu tradisi berbagi istri. Para suami di suku ini memperbolehkan berbagi istri, mereka boleh saja meminjamkan atau meminjam istri dengan pria lain.

Konsep berbagi istri ini lebih untuk kelangsungan hidup mereka. Dikarenakan lahan bertani di Himalaya sangat minim, mereka mencari jalan keluar dengan cara membuat anak mereka bisa saling berbagi lahan nantinya. Caranya, membuat mereka jadi saudara dengan cara berbagi istri yang bisa melahirkan anak satu saudara.

Ada juga tradisi Wodaabee yaitu mencuri istri orang, awalnya pernikahan mereka diatur oleh orang tua dari garis keturunan yang sama ketika masih bayi dan kemudian pada festival tahunan Gerewol, pria Wodaabee memakai make up dan kostum lalu menari untuk mengesankan para wanita serta mencuri istri baru. Jika seorang pria mampu mencuri istri dan tak terdeteksi oleh suami si wanita, maka mereka diakui secara sosial dan disebut menjalani pernikahan atas dasar cinta.

Nah, begitulah ulasan tentang suku Trobrianders ini dan ditambah dengan penjelasan suku lainnya. Sungguh tradisi yang cukup memilukan ya untuk anak-anak, padahal seharusnya usia segitu masih memikirkan sekolah yang bagus. Namun suku tersebut memang masih menjunjung tinggi tradisi seks sedari kecil. So, kita harus tetap saling menghargai tradisi masing-masing di setiap daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *