Home / general / Brownies Rasa Buah Salak Yang Menggugah Selera

Brownies Rasa Buah Salak Yang Menggugah Selera

Salak? buah yang rasanya gimana gitu ya guyss hehe. Tapi gimana ya kalau salak dibuat brownies? memangnya bisa?namun pada kenyataannya, kelembutan dan kelezatan sepotong brownies langsung terasa, saat pertama kali menggigit kue empuk itu. Di dalamnya, taburan irisan-irisan kasar salak seukuran kismis, memberi sensasi rasa yang lain. Bahkan menyempurnakan rasa coklat dan keju, yang menjadi ramuan utama brownies tersebut.

Brownies Salak ala Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

Salak jarang dipadukan dengan kue atau roti karena tekstur salak tidak khas meski kandungan seratnya tinggi. Salak memiliki kandungan zat gisi, vitamin C, serat, dan fitonutrien yang membantu program diet. Upaya memanfaatkan salak menjadi bentuk lain membuat nilai jualnya menjadi tinggi. Salah satu ide yang diwujudkan adalah membuat brownies salak.

Salah seorang mahasiswa pencipta brownies salak, Ayu Rahma Maulidya mengatakan, masyarakat memang sudah tidak asing lagi dengan buah salak. Namun, mereka tidak banyak yang tahu akan kandungan vitamin C dan gizi yang mampu membantu program diet pada buah salak.“Buah salak mengandung vitamin C, gizi serta serat dan fitonutrien yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, bahkan mampu membantu program diet,” jelasnya, Selasa (30/4/2013).

Oleh karena itu, Ayu mengklaim, produk brownies salak itu baik dikonsumsi para kaum Hawa maupun Adam yang sedang menjalani diet. “Awalnya kami coba-coba dulu dan dikonsumsi sendiri selama beberapa bulan, dan hasilnya kami bisa menurunkan berat badan yang cukup signifikan. Kandungan serat yang terdapat pada brownies salak memberikan rasa kenyang lebih lama, karena membutuhkan waktu lama untuk bisa diserap usus,” katanya.

Enam mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) yang berhasil membuat brownies salak itu adalah Nico Adi Putra, Presticia Rosa Indri, Kusniatul Ma’rufah, Ayu Rahma Maulidya, Fadly Mundzirwan serta Indri Srivanny Yessica. “Kami menggunakan salak pondoh yang manis dan berkualitas,” jelas Fadly Mundzirwan (20), mahasiswa Fakultas Pertanian kepada Surya yang bertemu di kampus mereka.

Menurut Fadly, pengolahannya tidak berbeda dengan resep brownies yang sederhana. Salak menjadi bahan penyerta yang dimasukkan bersama tepung dan cokelat. Salak lebih dulu diblender agar halus kemudian dicampur dengan tepung cokelat dan bahan lainnya. Sedangkan untuk topping nya, mereka memakai salak pondoh segar. “Salak pondoh untuk topping dipotong-potong kecil dan ditaburkan di atas kue brownies itu,”  terang Fadly.

Pembuatan kreasi itu berawal dari tugas kuliah. Mereka harus membuat sesuatu dari bahan salak. Akhirnya dipilihlah salak pondok yang manis dan disukai banyak orang. “Sementara ini kami membuat berdasarkan order karena kami juga berkuliah,” kata Ayu Rahma Maulidya.

Rasa brownies yang dipadu dengan salak pondoh tak kalah dengan merek terkenal yang ada di pasaran. Cokelatnya terasa karena tetap menggunakan dark chocolate, bahan khas brownies. Salak tak hanya menjadi topping, tetapi juga menjadi lapisan brownies. Salak yang dicampurkan dalam adonan tidak terasa teksturnya karena proses pengukusan membuat salak menjadi lebih lembut. Topping berupa cincangan salak itu yang membuat orang memahami bahwa brownies itu menggunakan bahan salak. Topping dari salak segar membuat sensasi unik ketika dikunyah.

Brownies Salak Khas Yogyakarta

Salakka, merupakan sebuah inovasi produk hasil kerja keras Decky Suryata bersama istrinya. Yaitu berupa penganan ringan brownies dengan berbahan dasar salak pondoh. Usaha ini berawal dari pertengahan 2010 lalu. Saat itu Decky melihat kondisi para petani salak yang kurang sejahtera karena harga jual yang begitu rendah dan fluktuatif serta tidak adanya pengolahan dari buah tersebut yang membuat banyak salak yang tidak habis terjual ditimbun untuk dijadikan pupuk.

“Kondisi seperti ini membuat saya memutuskan untuk bekerja sama dengan para petani. Istri saya coba bikin resep brownies dengan bahan salak, terus saya beranikan untuk membeli hasil panen mereka yang 40 persen lebih tinggi dari harga pasar yang bertujuan untuk mensejahterakan mereka,” ujarnya saat ditemui Sindonews, di Jakarta baru-baru ini.

Permasalahan rasa memang menjadi kendala yang utama bagi mereka, dimana produk pertama Salaka ini adalah cake brownies yang saat itu banyak orang meragukan salak sebagai bahan baku pembuatannya. Tidak lama berselang, keunikan dan rasa penasaran justru menjadi andalan bagi brownies salak pondoh ini yang seiring berjalan bakpia salak pondoh juga diluncurkan.

“Pas awal untuk omset di bulan-bulan pertama, kita hanya mampu menjual 10 kotak itu dengan cara door to door, titip di kios, kerja sama dengan supir taksi, travel agen dan media online sambil melakukan edukasi rasa,” tutur Decky. Namun dengan kerja keras yang dilakukan sampai pertengahan 2011, setiap bulan Decky berhasil menjual 100 kotak/hari dengan harga yang ditawarkan untuk satu cake brownies Rp 30 ribu dan bakpia seharga Rp25 ribu. Bahkan ketika musim liburan datang seperti Hari raya dan akhir tahun, omset dari usaha ini dapat meningkat sampai dengan 30 persen.

Untuk kedepannya pria asli Sleman ini sangat berharap bisa memberikan yang terbaik untuk para petani dan memberdayakan mereka untuk menciptakan produk olahan baru yang lebih modern sehingga UMKM dapat berkembang dan di kampung halamannya akan menyediakan semua tentang salak pondoh.

Aduh enak banget tuh kayaknya brownies salaknya, mau dong cicip-cicip sedikit,hehe. Gimana menurut kalian, apa juga tertarik dengan brownies salaknya? Kalau kalian mau, buruan deh beli brownies salaknya.

Check Also

Latar Belakang Perang Dunia II Serta Misteri Yang Belum Terpecahkan

Perang Dunia 2 atau disingkat (PD 2) merupakan kelanjutan dari Perang Dunia I yang terjadi …