Home / general / Peraturan Aneh Di Sekolah Jepang

Peraturan Aneh Di Sekolah Jepang

Dijaman yang semakin berkembang saat ini, peraturan yang berlaku tersebut sudah tidak diperhatikan dan dilakukan lagi entah karena kurangnya pengawasan ataupun kelalaian dalam memantau peraturan tersebut. Beragam peraturan-peraturan diberbagai belahan dunia inipun banyak pula yang melanggar dan tidak mematuhinya. Berbagai penyebab orang-orang tersebut melanggar peraturan tersebut sangatlah banyak entah karena ingin diperhatikan, niat jahat, membela diri atau bahkan ketidaktahuan. Peraturan-peraturan lainnya pun masih banyak dan bisa dibilang peraturan aneh, gila ataupun ekstrim.

Peraturan memang tidak bisa dilanggar dan dipantang, peraturan lalu lintas, hukum, politik dan bahkan sekolahpun tidak dapat dilanggar dengan semena-mena/sesuai keinginan. Peraturan yang ketat serta hukuman yang berat pula diberlakukan diberbagai negara termasuk bagi orang-orang yang melanggar peraturan tersebut. Namun bagaimana jadinya jika terdapat sebuah aturan aneh yang dilakukan pada sebuah sekolah, peraturan yang seharusnya diterapkan tidak terlalu mengekang justru malah sebaliknya.

Selain Korea Selatan, Jepang merupakan negara di kawasan Asia yang terkenal modis dan mengutamakan fashion dalam berbagai kesempatan. Tak hanya mengutamakan fashion saja ketika hang out, bahkan di Jepang para pelajar kerap kali dituntut tampil modis dan fashionable ketika pergi ke sekolah.

Nah, terkait dengan tuntutan ini, pihak sekolah pun mewajibkan murid-muridnya, khususnya perempuan, untuk mengenakan dan melarang sesuatu ketika pergi ke sekolah.

Hal-hal yang harus dikenakan ketika sekolah adalah:

  • Semua siswi wajib mengenakan kaus kaki setinggi dengkul
  • Rok harus di atas lutut (rok mini), hal ini agar penampilan mereka terlihat menarik. Jika peraturan ini tidak ditaati, maka yang bersangkutan akan dipulangkan.
  • Pakai helm dan seragam lengkap. Saat berkendara sepeda bagi siswa yang sudah memakai seragam lengkap tetapi tidak menggunakan helm, akan diberikan sanksi berat yaitu tidak boleh masuk ke sekolah.

Hal-hal yang dilarang ketika sekolah adalah:

  • Tidak boleh pakai celana dalam. Tidak ada alasan khusus mengapa orang Jepang memberlakukan ini pada siswi yang menggunakan rok mini. Tetapi peraturan itu tetap harus ditaati oleh para siswi.
  • Tidak boleh bawa tas. Selain siswa yang dalam masa orientasi maupun siswa yang akan segera lulus, mereka tidak boleh membawa tas dan hanya diperbolehkan membawa satu buku dan dijinjing ke sekolah.
  • Dilarang pacaran. Pihak sekolah memberlakukan peraturan ini agar siswa tetap fokus pada pelajaran dan menjadi pintar. Hal yang berbau romantis pun juga dilarang, untuk itu mereka banyak terlihat bermain dengan sesama jenis.
  • Tidak boleh menggunakan sepatu hak kayu, karena bisa akan sangat merepotkan apabila hak itu patah dan kaki jadi terkilir.
  • Anak laki-laki tidak boleh memakai minyak rambut
  • Semua siswa dilarang memakai gelang lebih dari dua, ini untuk mengantisipasi agar tidak dipakai untuk mencontek saat ujian atau tes.
  • Siswa taman kanak-kanak (tk) harus bertelanjang kaki selama mengikuti pelajaran. Namun, tidak jelas apakah ketika hanya ada di dalam ruangan atau tidak.

Dari semua informasi diatas ternyata beberapa poin tersebut memang diberlakukan di hampir seluruh sekolah di Jepang. Namun ternyata larangan menggunakan celana dalam tidak berlaku diseluruh sekolah yang ada di Jepang. Beberapa sekolah sepertinya menetapkan regulasi agar semua siswinya memakai celana dalam berwarna putih.

Sepertinya mitos tentang siswi di Jepang tidak boleh pakai celana dalam sama seperti mitos adanya vending machine yang menjual celana dalam siswi di Jepang. Kedua hal nyeleneh ini sepertinya hanya berlaku di kawasan tertentu namun tidak semua masyarakat Jepang tau tentang hal ini.

Sejak masuk era digital, kini Jepang terkenal sebagai negara produsen film dewasa terbesar di dunia. Jepang juga menetapkan regulasi aneh yaitu siswinya diwajibkan mengenakan rok mini. Mungkin saja hal ini ada hubungannya dengan pertumbuhan masyarakat Jepang yang boleh disebut 0 bahkan minus. Mungkin hal ini terjadi karena masyarakat Jepang sempat mengalami masa dimana penduduknya terlalu patuh dan disiplin sehingga tidak sempat memikirkan kehidupan membangun rumah tangga dengan menambah keturunan. Jumlah populasi yang semakin menurun ini pastilah meresahkan masyarakat Jepang, sehingga seolah pemerintah Jepang berusaha membuat masyarakat Jepang kembali hidup normal dengan cara manusia, bukan dengan kepatuhan dan kedisiplinan dan etos kerja yang sangat tinggi yang telah ada.

Ibaratnya kalau di era 80-an dan 90-an pria di Jepang sampai tidak sempat memikirkan bersenang-senang dengan wanita. Kini Jepang menginginkan para pria di Jepang untuk menjadi mata keranjang dan hidup normal dengan ketertarikan terhadap wanita seperti manusia normal bukan robot yang hanya sibuk bekerja.

Check Also

Latar Belakang Perang Dunia II Serta Misteri Yang Belum Terpecahkan

Perang Dunia 2 atau disingkat (PD 2) merupakan kelanjutan dari Perang Dunia I yang terjadi …