Home / info / “Seram” Inilah Tradisi Potong Jari Di Papua

“Seram” Inilah Tradisi Potong Jari Di Papua

Semua orang pasti akan sedih ketika kehilangan seseorang yang dicintai, berbagai cara ditunjukkan untuk mengekspresikan rasa sedih yang dialami. Ada sebuah tradisi yang melambangkan kesetiaan mereka terhadap anggota keluarga yang baru meninggal dengan memotong jari, tradisi tersebut bernama Ikipalin. Penasaran gimana kelanjutannya? Yuk kita simak sama-sama artikel ini.

Apa Itu Ikipalin?

Ikipalin merupakan salah satu tradisi yang ada di Papua, dimana mereka melakukan pemotongan jari untuk mengungkapkan rasa kesedihan mereka terhadap seseorang yang telah meninggal. Setiap tempat punya ritualnya sendiri dalam menunjukkan rasa kehilangan ketika ditinggal salah satu anggota keluarga untuk selamanya. Ada yang mengadakan doa dan syukuran, bahkan sampai melakukan tradisi ekstrem yang bikin merinding seperti yang dijalani oleh suku Dani di Papua ini. Begitu ada anggota keluarga yang meninggal, mereka akan langsung memutuskan salah satu ruas jarinya.

Dalam adat suku Dani, jari diartikan sebagai sebuah simbol kerukunan dan juga kekuatan dalam diri manusia maupun keluarga. Jari juga dipercaya bisa saling bekerjasama membangun sebuah kekuatan sehingga tangan bisa berfungsi dengan sempurna. Kehilangan salah satu ruasnya akan bisa mengakibatkan tidak maksimalnya tangan dalam bekerja, jadi jika salah satu bagian hilang maka hilang juga komponen kebersamaan itu.

Mengapa Harus Potong Jari?

Dalam kepercayaan masyarakat suku Dani, seseorang yang sudah mati masih memiliki hubungan dengan mereka yang masih hidup. Agar hubungan tersebut menjadi seimbang maka manusia yang masih hidup harus menyerahkan sebagian dari rohnya kepada orang yang meninggal tersebut dan jari merekalah yang menjadi sasaran pengorbanan tersebut. Proses potong jari ini dilakukan dengan menggunakan benda tajam baik pisau, parang atau pun kapak. Mereka akan mengikat jari yang akan dipotong dengan tali hingga aliran darah terhenti, pada saat aliran darah sudah terhenti barulah dilakukan pemotongan.

“Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik”, sebuah pedoman dasar hidup suku Dani untuk tetap bersatu baik suka ataupun duka. Bagi orang awam yang telah mengenyam kehidupan modern tentu berfikir bahwa ini adalah salah satu tradisi yang sangat ekstrim dan merugikan. Namun bagi suku Dani, ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Mereka menganggap bahwa memotong jari tangan adalah simbol dari rasa sakit dan pedih yang mereka rasakan karena kehilangan orang yang dikasihinya. Menurut suku Dani, kebersamaan adalah hal yang sangat penting. Mereka beranggapan bahwa luka hati karena ditinggal mati baru akan sembuh bersamaan dengan sembuhnya luka di jari tangan yang terpotong.

Tradisi Potong Jari Hanya Dilakukan Oleh Wanita

Awalnya kita mungkin akan beranggapan kalau ritual ini dilakukan oleh semua orang, tapi kenyataannya tradisi ini hanya dijalani oleh kaum wanita saja. Biasanya dilakukan oleh para ibu atau wanita tertua. Jadi, ketika ada anggota keluarga seperti suami, anak atau saudara kandung yang meninggal, maka jari merekalah yang akan diputus. Mungkin karena hanya dilakukan oleh wanita tertua, maka kita bisa lihat kalau mayoritas ibu-ibu di sana banyak kehilangan ruas jarinya. Bahkan ada yang sampai hanya memiliki tiga jari saja yang masih lengkap. Jari yang terputus dari para ibu suku Dani menandakan berapa banyak keluarga mereka yang sudah meninggal. Meskipun katanya hanya dilakukan para wanita, namun pria terkadang juga melakukannya.

Tradisi ini mungkin hampir mirip dengan kelompok organisasi mafia di Jepang (Yakuza), dimana jika salah satu anggota dari mereka gagal dalam menjalankan misinya, maka akan dipotong jarinya sebagai ungkapan bentuk penyesalan anggota tersebut.

Tidak hanya para wanita saja yang melakukan tradisi ekstrem sebagai lambang kehilangan, para pria suku Dani pun melakukannya. Hanya saja mereka memiliki cara yang agak berbeda. Bukan potong jari, melainkan mengiris kulit telinga. Prosesinya tidak jauh berbeda, jadi ketika ada saudara yang meninggal maka para pria akan memotong kulit kupingnya. Biasanya mereka melakukan ini dengan menggunakan semacam bilah bambu yang tajam.

Selain tradisi pemotongan jari, ada juga tradisi yang dilakukan dalam upacara berkabung. Tradisi tersebut adalah tradisi mandi lumpur. Mandi lumpur dilakukan oleh kelompok atau anggota dalam jangka waktu tertentu. Mandi lumpur mempunyai konotasi berarti setiap orang yang telah meninggal dunia telah kembali ke alam. Manusia berawal dari tanah dan kembali ke tanah.

Tradisi satu ini konon sudah dilakukan sejak jaman dulu sekali dan orang-orang suku Dani tetap setia melakukannya bahkan di masa-masa sekarang. Tapi, belakangan diketahui jika tradisi potong jari sudah jarang sekali dilakukan. Penyebab utamanya adalah lantaran pengaruh agama yang sudah menyebar di daerah pelosok Papua.

Walaupun demikian, ada juga yang mengatakan jika tradisi ini masih lestari sampai saat ini. Terutama di daerah-daerah yang terpencil lagi. Agak dilematis sebenarnya menyikapi tradisi yang seperti ini. Di satu sisi hilangnya tradisi menyakitkan ini adalah hal yang baik karena tidak menyakiti, tapi di sisi lain tradisi potong jari yang tak dilakukan lagi juga seolah mengubur satu budaya asli tanah Papua.

Ya, itulah sejarah singkat tentang tradisi potong jari di Papua. Gimana menurut kamu, mengerikan bukan? Tapi setiap suku pasti memiliki tradisi masing-masing, maka dari itu kita harus tetap saling menghargai. Oke sampai disini dulu pembahasan kita ya, sampai jumpa lagi. . .

Check Also

Kacamata Atau Softlens, Mana Sih Yang Lebih Baik?

Apa kamu pernah mengalami kebingungan saat harus memilih antara memakai kacamata atau softlens? Ya, itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *