Home / relationship / Mau Cerai Tapi Bingung Gimana Ngomong Sama Pasangan? Baca Ini

Mau Cerai Tapi Bingung Gimana Ngomong Sama Pasangan? Baca Ini

“CERAI”, mungkin ini adalah hal yang sangat tidak diinginkan oleh semua pasangan di dunia ini, akan tetapi kalau sudah tidak ada kecocokkan lagi mau bilang apa. Perceraian terjadi sudah pasti ada penyebabnya, ya bisa jadi kamu memang merasa tidak nyaman ataupun karena hal lain. Kamu mungkin bingung gimana cara menyampaikan ke pasangan kalau kamu ingin bercerai dan kamu tidak ingin menyakiti hatinya karena keinginan kamu tersebut. Nah untuk itu, di sini akan dijelaskan bagaimana cara penyampaian yang tepat kepada pasangan kamu. Silahkan disimak ya.

Pengertian Perceraian

Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah di depan hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang. Oleh karena itu perlu dipahami jiwa dari peraturan mengenai perceraian itu serta sebab akibat-akibat yang mungkin timbul setelah suami-istri itu perkawinannya putus.

Sedangkan bagi anak, perceraian adalah “tanda kematian” keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya lagi.

Penyebab Perceraian

Masalah perceraian dalam rumah tangga adalah hal yang kerap terjadi di masyarakat, bukan hanya terjadi di kalangan artis tetapi juga di kalangan masyarakat biasa. Masalah perceraian seharusnya menjadi masalah yang serius dalam sebuah rumah tangga, ini tidak boleh diremehkan. Rasa ingin bercerai kadang dilatarbelakangi oleh banyak faktor. Setelah melalui berbagai banyak pertimbangan, kini saatnya kamu siap untuk berpisah. Berikut ini adalah penyebab perceraian terjadi pada setiap pasangan:

1. Minimnya ekonomi

Hidup dalam kekurangan membutuhkan kesabaran yang besar, banyak orang yang tidak kuasa bertahan dalam kekurangan, khususnya wanita. Ingatlah bahwa syarat utama untuk menjalin pernikahan adalah mempunyai pekerjaan layak dan ekonomi yang cukup. Jika keadaan ekonomi dalam rumah tangga semakin menipis, tentu akan menyebabkan banyak masalah baru sehingga menimbulkan cek-cok antara suami istri.

2. Komunikasi pasif

Komunikasi pasif antara suami dan istri juga sering menimbulkan masalah yang merujuk pada perceraian. Banyak perceraian terjadi di masyarakat karena kurangnya komunikasi antara suami dan istri. Jalan utama untuk mengatasi komunikasi pasif adalah mencoba untuk melakukan komunikasi aktif dan bersifat terbuka.

3. Perbedaan

Sering kali sebuah perbedaan menyebabkan seseorang melepas hubungan dengan orang lain tanpa tolerasi terlebih dahulu. Seharusnya perbedaan menjadikan seseorang mengerti kekurangan antar satu dengan lainnya dan mewujudkan solusi untuk bersatu dan saling mengisi, bukan menjadikan perpisahan dan perpecahan. Contoh perbedaan dalam masalah pernikahan bisa seperti :

  • Perbedaan faham dan keyakinan
  • Perbedaan ide dan pemikiran
  • Perbedaan status sosial dari masing-masing keluarga (kaya dan miskin)

4. Tidak konsekuensi

Menikah adalah sebuah konsekuensi untuk saling setia, saling mencintai, saling menyayangi, bertanggung jawab, saling menjaga dan saling menghargai. Jika rasa konsekuensi ini hilang, maka sangat mudah terjadi perceraian. Contoh tindak tidak konsekuensi dalam pernikahan adalah :

  • Mencintai pihak ketiga
  • Suami mengabaikan tanggung jawab untuk mencari nafkah
  • Istri tidak menjaga kehormatan dan martabat keluarga

5. Perselingkuhan

Selingkuh adalah sebuah pengkhianatan dalam rumah tangga. Semua orang tidak menginginkan orang yang dicintai melakukan perselingkuhan kepada orang lain. Tentu saja hal ini menyebabkan luka dalam yang membekas di hati. Luka karena mereka dikhianati akan menyebabkan keputusan dini tanpa pertimbangan terlebih dahulu, yaitu perceraian.

6. Masalah nafkah batin

Nafkah batin atau seks adalah salah satu alasan penting mengapa seseorang melangsungkan pernikahan. Kebutuhan batin pun harus terpenuhi agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Terkadang ketidakpuasan dalam nafkah batin menyebabkan seseorang melakukan perselingkuhan dan tentu titik fatal dari masalah ini adalah perceraian.

7. Kesibukan pekerjaan yang berlebihan

Sibuk bekerja membuat kedua pihak (suami dan istri) jarang melakukan komunikasi aktif. Aktifitas pekerjaan yang berlebihan membuat lelah, saat pulang bekerja keduanya mungkin akan menghabiskan waktu untuk istirahat. Keadaan seperti ini tentunya sangat tidak harmonis, apalagi ketika beban pekerjaan semakin bertambah dan menumpuk. Beban pikiran karena pekerjaan terkadang membuat keduanya mudah emosi sehingga menimbulkan pertengkaran.

8. Kurangnya perhatian

Manusia memiliki watak senang diperhatikan, diakui, dicintai dan disayangi. Jika dalam keluarga salah satu pasangan mendapatkan perhatian kurang, maka bunga kemesraan dalam rumah tangga pun akan layu. Dan tentu saja hal ini bisa memperbesar peluang perceraian antara keduanya.

9. Saling curiga

Mencurigai pasangan adalah sebuah penyakit yang harus diobati karena ini akan menimbulkan prasangka buruk, menuduh dan fitnah dalam keluarga. Sifat ini biasanya dimiliki oleh pasangan yang protektif.

10. Sering bertengkar

Pertengkaran dalam rumah tangga pasti dialami oleh banyak orang. Pertengkaran kecil sebaiknya tidak dianggap remeh, apalagi jika watak keduanya (suami dan istri) mudah tersinggung dan sulit untuk berdamai, tentu ini akan sangat mudah untuk mengeluarkan kata-kata yang bernada perceraian. Jika pertengkaran suami istri sering terjadi, maka akan sangat mudah mereka untuk bercerai.

Cara Memberi Tahu Pasangan

Ketika kamu sudah siap untuk bercerai, mungkin ada satu masalah yang mendasari yaitu bagaimana mengatakan pada pasangan kalau kamu ingin bercerai. Gugup, panik dan cemas itu pasti ada. Kamu hanya membutuhkan beberapa tips, latihan dan keyakinan saja untuk mengatakan hal itu. Di bawah ini beberapa tips bagaimana cara menyampaikannya.

1. Mulai pembahasan yang jelas

Jika kamu belum memberi tahu pasangan kalau kamu sedang menimbang-nimbang untuk cerai atau kamu sudah bilang tetapi pasangan kamu tidak mendengar dan menyadarinya, kamu perlu punya cara memberitahukan keinginan bercerai ini secara matang.

Contoh, kamu bisa memulai dengan pembahasan seperti, “Aku sudah lama merasa nggak bahagia, semua hal sudah aku lakukan tapi tidak pernah berhasil dengan baik, malah menimbulkan masalah baru.”

Dengan ungkapan awal seperti ini, dapat membuat pasangan mulai merespon dan menyadari ada sesuatu yang harus diselesaikan. Hindari juga memberikan harapan palsu dan kalimat ambigu pada pasangan yang hanya akan menimbulkan pertengkaran.

2. Saat berbicara, langsung tegaskan bahwa ingin bercerai

Setelah kamu mantap meyakini bahwa ingin menempuh jalan perceraian, dalam pembicaraan kamu butuh menegaskan dan mengunakan kata “saya” atau “aku”. Contoh, “Saya ingin mengakhiri pernikahan ini dengan bercerai.” Mengapa disarankan mengucapkan kata demikian? Kata ini mengungkapkan pernyataan jelas, tidak bertele-tele dan mungkin saja tidak membuat pasangan kamu terkejut.

Akan berbeda jika kamu berbicara panjang lebar tanpa arah yang jelas. Niat bercerai kamu bisa menghasilkan reaksi yang jauh lebih sulit dibayangkan. Karena pasangan kamu kemungkinan akan mengalami tahap awal penyangkalan dan kemarahan dengan ucapan kamu. Kamu harus tegas menyatakan apa yang kamu ingin dan rasakan.

3. Cari waktu yang tepat

Mengungkapkan rasa ingin bercerai ini, idealnya dilakukan di waktu yang tepat. Katakan disaat kamu dalam mood yang stabil dan memiliki waktu sedang berdua dengan pasangan. Jika kamu telah memiliki buah hati, baiknya hindari mereka beberapa saat untuk berbicara dengan pasangan.

Kamu juga harus mempertimbangkan reaksi pasangan ketika kamu menyatakan ingin bercerai. Jangan memulai pembicaraan dengan mengungkit hal-hal yang kamu tidak suka dari pasangan, karena ini hanya akan mengulur-ulur waktu menjadi pertengkaran tanpa ujung perceraian yang pasti.

4. Cari suasana aman dengan meminta bantuan orang lain

Jika kamu khawatir dengan keselamatan kamu sehabis mengungkapkan keinginan bercerai, kamu bisa meminta orang sebagai pihak ketiga yang netral seperti saudara, konselor pernikahan atau bahkan kuasa hukum. Kondisi ini berguna ketika kamu tidak bisa mengendalikan reaksi dan emosi pasangan saat menerima kabar tersebut.

Demikianlah penjelasan di atas tersebut, mungkin pasangan kamu akan terkejut dan marah ketika mendengar pernyataan kamu dan mungkin kamu akan dianggap egois. Akan tetapi, kamu harus tetap sabar dan menolak untuk membalas perkataannya dengan cara yang sama. Setelah suasana mereda, kamu bisa mengambil keputusan untuk menyiapkan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *