Home / healthy / Kolera? Yuk, Mengenal Lebih Dalam Penyakit Ini

Kolera? Yuk, Mengenal Lebih Dalam Penyakit Ini

Hallo guys, diperjumpaan kita kali ini akan mengupas dan mengenal tentang penyakit Kolera. Apakah penyakit ini berbahaya? Terus apa saja sih yang jadi penyebab dari penyakit koler? Lalu bagaimana ya kita harus mengetahui bahwa itu adalah gejala dari penyakit kolera? Setelah mengetahui penyebab dan akibat dari penyakit tersebut, lalu bagaimana cara pengobatan dan pencegahannya ya? Nah, dari pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang akan saya bahas di artikel ini.

Sebegitu pentingnya kesehatan yang harus selalu dijaga oleh setiap umat manusia agar tidak terkena dari berbagai penyakit yang akan menyerang kesehatan. Nah, sebelum mengetahui lebih lanjut tentang penyakit kolera tersebut, sudah pasti kamu bertanya-tanya dalam hati. Penyakit Kolera ini, semacam penyakit apa sih? Oke guys, saya akan memberikan sedikit pengertian dari penyakit Kolera tersebut.

Kolera adalah infeksi bakteri yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami dehidrasi akibat diare parah. Penularan kolera biasanya terjadi melalui air yang terkontaminasi. Jika tidak segera ditangani, kolera dapat berakibat fatal hanya dalam beberapa jam saja. Kolera biasanya mewabah di daerah yang padat penduduk tanpa sanitasi yang memadai. Dengan perawatan yang cepat dan tepat, kolera dapat diatasi dengan baik. Perawatan yang murah dan sederhana, seperti oralit, bisa digunakan untuk mencegah dehidrasi akibat kolera.

Setelah kamu sudah mengetahui pengertian dari penyakit Kolera tersebut yang telah saya rangkum secara detail. Maka sekarang saya akan sedikit membeberkan dan memberikan sedikit informasi dari penyebab, gejala dan cara pengobatannya serta cara pencegahan dari penyakit Kolera ini. Yuk mari simak ulasan yang telah buat untuk para pembaca semua agar dapat mencegah dan mengenali penyakit tersebut. Berikut ulasannya :

Gejala Kolera

Memang sih, setiap penderita penyakit ini hampir tidak mengalami gejala yang ditimbulkan, sehingga para penderita tidak menyadari bahwa ia telah terinfeksi Vibrio Cholerae atau bakteri Kolera. Dari sekuruh para penderita yang terjangkit kolera, hanya 10 dari 100 orang yang telah menunjukkan gejalanya. Meskipun tidak memiliki gejala, penderita kolera masih bisa menularkan penyakit ini kepada orang lain melalui tinja yang mengandung bakteri kolera dan mencemari air selama 1-2 pekan. Berikut ini adalah gejala Kolera yang terjadi :

  • Mulut terasa kering
  • Aritmia atau gangguan irama jantung
  • Mata cekung
  • Mudah marah
  • Merasa sangat haus
  • Tubuh lesu
  • Hipotensi atau tekanan darah rendah
  • Letargi
  • Urine yang keluar hanya sedikit atau bahkan tidak ada
  • Kulit berkerut dan kering

Dehidrasi bisa menyebabkan ketidakseimbangan kadar elektrolit atau hilangnya sejumlah besar mineral dalam darah yang berguna menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Ketidakseimbangan elektrolit bisa menyebabkan oksigen dan tekanan darah menurun drastis, serta kram otot.

Gejala kolera pada anak-anak seringkali lebih berat dibandingkan dengan dewasa. Anak-anak yang terjangkit bakteri kolera lebih rentan terkena hipoglikemia atau gula darah rendah yang bisa menyebabkan kejang, hilang kesadaran, dan bahkan koma. Segera temui dokter jika mengalami gejala diare yang parah dan dehidrasi untuk mendapatkan penanganan lanjutan yang tepat.

Penyebab 

Penyebab infeksi kolera adalah bakteri bernama Vibrio cholerae. Bakteri kolera memproduksi CTX atau racun berpotensi kuat di dalam usus kecil. Dinding usus yang ditempeli CTX akan mengganggu aliran mineral sodium dan klorida hingga akhirnya menyebabkan tubuh mengeluarkan air dalam jumlah besar (diare) dan berakibat kepada kekurangan elektrolit dan cairan.

Terdapat beberapa kelompok serologi dari bakteri Vibrio cholerae, namun hanya ada dua jenis yang dapat menyebabkan penyakit yang mewabah, yakni V.cholerae O1 dan V.cholerae O139. Kedua jenis ini memiliki derajat racun yang sama dan gejala yang dihasilkan pun tidak jauh berbeda. Ada dua siklus kehidupan yang berbeda pada bakteri kolera, yaitu di dalam tubuh manusia dan lingkungan.

  • Bakteri kolera di tubuh manusiaOrang yang terjangkit bakteri kolera bisa menularkan penyakit melalui tinja yang mengandung bakteri. Bakteri kolera bisa berkembang biak dengan subur jika persediaan air dan makanan terkontaminasi dengan tinja tersebut.
  • Bakteri kolera di lingkungan. Perairan pinggir pantai yang memiliki krustasea kecil bernama copepoda merupakan tempat alami munculnya bakteri kolera. Plankton dan alga jenis tertentu merupakan sumber makanan bagi krustasea, dan bakteri kolera akan ikut bersama inangnya (yaitu krustasea), mengikuti sumber makanan yang tersebar di seluruh dunia.

Sumber-sumber infeksi kolera bisa berasal dari makanan atau air yang mengandung bakteri, misalnya mengonsumsi kerang mentah atau yang tidak dimasak dengan matang. Selain itu infeksi kolera bisa bersumber dari sayuran dan buah-buahan mentah yang tidak dikupas. Tumbuhnya bakteri kolera di daerah rawan kolera juga bisa terjadi melalui nasi dan milet yang terkontaminasi setelah dimasak dan didiamkan di suhu ruangan selama beberapa jam.

Lingkungan padat penduduk yang tidak memiliki sanitasi memadai biasanya rawan oleh penyakit kolera. Bakteri kolera bisa bertahan di air untuk jangka waktu yang lama dan mencemari sumur-sumur yang digunakan oleh masyarakat umum. Selain itu, lahan pertanian yang terkontaminasi oleh pemupukan yang tidak baik atau oleh pengairan yang mengandung sampah juga berpotensi menjadi sumber kolera.

Selain beberapa sumber infeksi kolera seperti yang disebutkan di atas, ada juga beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjangkit bakteri kolera, yaitu:

  • Golongan darah OOrang-orang dengan tipe darah ini memiliki risiko terjangkit kolera dua kali lipat lebih besar dari golongan darah lainnya.
  • Tinggal bersama seseorang yang menderita kolera. Karena bakteri kolera cenderung tinggal pada sumber air, maka orang yang tinggal bersama dengan penderita kolera akan lebih berisiko untuk menderita penyakit ini karena mereka minum dari sumber air yang sama.
  • Memiliki kadar asam lambung yang rendah. Bakteri kolera tidak bisa bertahan hidup di lingkungan yang asam. Asam lambung manusia dapat menjadi pertahanan pertama untuk melawan infeksi.

Pengobatan 

Diagnosis dilakukan untuk mengatasi kolera dan menentukan pengobatan yang tepat. Satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis kolera adalah dengan menguji sampel tinja guna melihat keberadaan bakteri. Kini petugas medis di daerah terpencil bisa menggunakan tes untuk mendiagnosis kolera lebih cepat dan mengurangi dampak fatal yang bisa terjadi.

Dampak paling fatal akibat kolera adalah kematian yang dapat terjadi dalam hitungan jam saja. Itu sebabnya pasien membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Langkah-langkah penanganan darurat dapat berupa:

  • Pemberian oralit, untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Oralit tersedia dalam bentuk bubuk yang bisa dicampur dengan air mineral botol atau air yang dimasak hingga mendidih.
  • Pemberian infus, untuk orang yang mengalami dehidrasi parah.
  • Pemberian suplemen seng, untuk meredakan diare pada anak-anak penderita kolera.
  • Pemberian antibiotik, untuk mengurangi jumlah bakteri, sekaligus mempersingkat diare akibat kolera.

Pencegahan 

Untuk mencegah terjangkit kolera, sebaiknya senantiasa menjaga kebersihan diri dan makanan. Anda bisa mengurangi risiko terjangkit kolera dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Hindari membeli makanan dari penjaja keliling atau pedagang kaki lima, Konsumsilah makanan yang benar-benar matang.
  • Hindari mengonsumsi makanan laut mentah atau yang tidak dimasak sampai matang.
  • Hindari konsumsi susu mentah dan waspadai produk olahan susu (misalnya es krim), karena sering terkontaminasi bakteri.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air secara rutin, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Sebelum dibasuh dengan air, gosok kedua tangan dengan sabun setidaknya selama 15 detik. Anda juga bisa menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol jika tidak ada sabun dan air.
  • Minum air mineral botol atau air yang telah dimasak hingga mendidih. Pada umumnya, minuman botol, kaleng, atau minuman hangat lebih aman. Namun sebelum membuka minuman kemasan, lap bagian luarnya terlebih dahulu.
  • Berkumurlah dengan air bersih setelah menyikat gigi.
  • Hindari makan salad dan buah-buahan yang tidak dikupas, seperti buah anggur. Pilih sayuran dan buah-buahan yang bisa dikupas sendiri, seperti kiwi, pisang, dan pepaya.

Vaksinasi juga bisa dilakukan agar tidak tertular bakteri kolera, namun distribusi vaksin ini masih terbatas. Saat ini, ada tiga merk vaksin kolera yang lolos uji pre-kualifikasi WHO, yakni Dukoral, Shanchol dan Euvichol. Vaksin ini diberikan secara oral dan diperuntukkan bagi orang-orang yang akan bepergian ke daerah wabah kolera dan bagi mereka yang memiliki akses pelayanan medis terbatas (misalnya petugas bantuan kemanusiaan).

Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2015, tercatat beberapa negara yang telah terkena penyakit sejenis Kolera ini, yakni negara Afrika, Kongo, Kenya, Malawi, Mozambik, Nigeria, somalia, Sudan dan tanzania. Sangat memprihatinkan sekali ya guys negara-negara tersbut. Tentu ini kurangnya pemberian Vaksin kolera yang untuk para penderita, agar mereka bisa terkindungi dari infeksi Kolera tersebut.

Harapan saya tentunya jangan sampai penyakit semacam ini bisa menyebar ke Indonesia. Mungkin bukan hanya harapan saya yang menginginkannya, tentu saja hal seperti yang saya ucapkan menjadi harapan kalian semua ya guys. Sampai disini sajalah informasi tentang penyakit Kolera yang bisa saya berikan untuk para pembaca sekalian. Atas perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih.

Check Also

Jenis, Cara Menghindari dan Mengobati Infeksi Jamur Kulit

Apakah anda sedang mengalami penyakit Infeksi kulit Jamur? Memang sih, penyakit ini tidak akan merenggut nyawa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *