Home / pengetahuan / Bukan Dengan Uang, Inilah Cara Unik Pembayaran Zaman Dahulu

Bukan Dengan Uang, Inilah Cara Unik Pembayaran Zaman Dahulu

Ada jual dan ada beli, ketika kita membeli sesuatu tentu saja kita harus membayarnya. Di zaman sekarang ini, banyak sekali cara pembayaran. Ada cash atau dengan uang tunai dan ada pula dengan kredit, hal itu dikarenakan zaman yang sudah semakin canggih. Namun, apakah pembayaran pada zaman dahulu sama dengan zaman sekarang? Untuk mendapatkan jawaban yang lebih jelas lagi, mari kita simak sama-sama.

Apa Itu Pembayaran?

Pembayaran merupakan salah satu aktivitas penting pada setiap transaksi dalam kegiatan ekonomi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, semakin banyak dan semakin besarnya nilai transaksi serta risiko, dibutuhkan adanya sistem pembayaran dan alat pembayaran yang cepat, lancar dan aman. Keberhasilan sistem pembayaran akan dapat mendukung perkembangan sistem keuangan dan perbankan. Sebaliknya ketidaklancaran atau kegagalan sistem pembayaran akan memberikan dampak yang kurang baik pada kestabilan perekonomian.

Proses pembayaran memang mudah dan sederhana, tetapi bisa juga kompleks dan sulit tergantung dari kompleks tidaknya transaksi ekonomi yang terjadi. Pembayaran secara umum dapat diartikan sebagai . Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pembayaran adalah perpindahan hak atas nilai antara pihak pembeli dan pihak penjual yang secara bersamaan terjadi perpindahan hak atas barang atau jasa secara berlawanan.

Metode Pembayaran Zaman Dulu

Seperti kita ketahui bersama, pembayaran modern masa kini memiliki sistem pembayaran yang beragam mulai dari pembayaran dengan menggunakan mata uang atau menggunakan kartu kredit. Hal ini mungkin sudah biasa mengingat kita sudah memasuki era modern, dimana sistem pembayaran telah mengalami kemajuan.

Di zaman nenek moyang dulu, jauh sebelum zaman modern, sistem pembayaran bukanlah menggunakan mata uang. Namun menggunakan sistem barter atau bertukar barang atas persetujuan kedua belah pihak. Sistem pembayaran ini telah lama menghilang karena dinilai kurang praktis. Akan tetapi metode pembayaran ini masih berlaku di beberapa tempat dan berikut ini adalah cara pembayaran paling unik:

Batu besar

Batu merupakan hasil kekayaan alam yang memiliki nilai jual baik batu kerikil yang kecil hingga batu alam yang berukuran besar karena bisa digunakan sebagai bahan bangunan untuk membuat rumah, gedung, bangunan lainnya hingga jalan raya. Sejatinya transaksi dengan menggunakan batu, tentu tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapapun. Namun siapa sangka, batu memiliki nilai berharga yang bisa dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah.

Di sebuah Kepulauan di Samudera Pasifik yang bernama Mikronesia, menjadikan batu sebagai sarana pembayaran. Penduduk setempat yang mendiami Pulau Yap masih menggunakan batu sebagai mata uang alternatif, untuk menjaga tradisi nenek moyangnya. Semakin besar ukuran batu, maka semakin tinggi nilainya.

Tutup botol

Kalau biasanya tutup botol yang kita jumpai tidak memiliki nilai jual apapun dan dibuang begitu saja, bahkan berserakan. Namun hal ini tidak berlaku di negara Kamerun. Masyarakat yang tinggal di negara bagian Afrika Tengah ini justru menggunakan tutup botol sebagai alat pembayaran untuk membeli barang yang bernilai kecil dan juga membayar jasa sederhana.

Asal muasal tutup botol digunakan sebagai alat pembayaran di Kamerun adalah promosi yang dilakukan oleh perusahaan bir setempat yang menawarkan berbagai hadiah menarik di balik tutup botolnya dan bisa dibilang mirip undian berhadiah seperti di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk menarik minat konsumen dengan iming-iming hadiah di balik tutup botol produk mereka. Maka sejak saat itu, tutup botol memiliki nilai tersendiri di negara tersebut.

Bayar listrik dengan hewan ternak dan pertanian

Pembayaran listrik yang biasa kita lakukan adalah dengan menggunakan voucher. Namun jauh sebelum voucher listrik berlaku, pembayaran listrik yang satu ini terbilang cukup unik, yakni dengan menggunakan hasil peternakan dan pertanian. Transaksi unik ini terjadi sejak tahun 2011 lalu di empat Desa di Probolinggo, yakni Desa Tiril, Desa Roto, Desa Andung Biru dan Desa Sumber Duren.

Menurut salah satu warga Desa Andung Biru, M. Rosyid, kisah unik ini bermula pada tahun 1990 lalu. Awalnya, desa-desa di daerah tersebut mengalami gelap gulita ketika malam tiba, karena belum terjamah oleh aliran listrik. Sebagai langkah antisipasi awal, dia beserta warga lainnya berinisiatif untuk mendirikan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro).

Waktu kapasitas listrik yang dihasilkan sangat kecil, hanya mencapai 16kW yang hanya mampu menerangi beberapa rumah saja. Sampai pada tahun 2011, PGN (Perusahaan Gas Negara) dan Universitas Brawijaya memberikan unit bantuan tambahan PLTMH berkapasitas 40kW. Sejak saat itu, setiap rumah di empat Desa tersebut mendapat meteran listrik di rumahnya. Untuk pembayarannya, warga tidak perlu membayarnya dengan menggunakan uang, melainkan boleh dengan hasil pertanian dan hewan ternak.

Kulit kerang sebagai pengganti uang

Pada zaman dahulu alat pembayaran menggunakan benda-benda unik seperti kulit kerang mungkin sudah tak asing lagi, biasanya metode pembayaran unik kulit kerang terjadi di benua Asia, Afrika dan Eropa. Namun apa jadinya bila metode ini masih berlangsung di era modern seperti sekarang? Beberapa masyarakat di kepulauan Solomon ternyata masih menggunakan kulit kerang saat hendak membeli barang serta membayar jasa.

Ya, itulah beberapa jenis metode pembayaran yang sangat unik. Wah, apa jadinya ya kalau semua berlaku sampai sekarang? Ya kalau berlaku sampai sekarang, sudah jelas lumayan membantu juga dong. Karena meskipun tidak punya uang, asalkan memiliki salah satu alat pembayaran di atas sebagai pengganti uang, kita tetap bisa melakukan transaksi jual beli. Sangat membantu bukan?

Check Also

Stop, Jangan Makan Terlalu Cepat Kalau Gak Mau Gemuk

Kalau udah lapar, pasti deh kita langsung saja menyantap makanan tersebut cepat-cepat. Ya, namanya juga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *